Jumat, 30 Desember 2011

BAHAYA JAHIL (BODOH) TERHADAP ILMU AGAMA

Kalau seorang dokter salah memberi obat karena kebodohannya, maka tentu saja akan membawa bahaya bagi pasiennya. begitu pula jika seseorang jahil atau tidak paham akan ilmu agama, tentu itu akan berdampak pada dirinya sendiri dan orang lain yang mencontoh dirinya.

Allah memerintahkan kepada kita untuk mengawali amalan dengan mengetahui ilmunya terlebih dahulu. ingin melaksanakan shalat, harus dengan ilmu. Ingin puasa, harus dengan ilmu. Ingin terjun ke dunia bisnis , harus tahu betul seluk beluk hukum dagang. Begitu pula jika ingin beraqidah yang benar harus dengan ilmu.
Allah Ta'ala berfirman, "maka ilmuilah (ketahuilah)! bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu" (QS.Muhammad:19). Dalam ayat ini, Allah memulai dengan 'ilmuilah' lalu mengatakn 'mohonlah ampun'. Ilmulah yang dimaksudkan adalah perintah untuk berilmu terlebih dahulu, sedangkan 'mohonlah ampun' adalah amalan. Ini pertanda bahwa ilmu hendaklah lebih dahulu sebelum amal perbuatan.

Sufyan bin'Uyainah berdalil dengan ayat ini untuk menunjukkan keutamaan ilmu. Hal ini sebagaimana dikeluarkan oleh Abu Nu'aim dalam Al Hilyah ketika menjelaskan biografi dari jalur Ar Robi' bin Nafi' darinya, bahwa Sufyan membaca ayat ini, lalu mengatakan, "Tidakkah engkau mendengar bahwa Allah memulai ayat ini dengan mengatakan 'ilmuilah, kemudian Allah memerintahkan untuk beramal?" (Fathul Bari, Ibnu Hajar, 1/108)

Al Muhallab rahimahullah mengatakan, "Amalan yang bermanfaat adalah amalan yang terlebih dahulu didahului dengan ilmu. Amalan yang didalamnya tidak terdapat niat, ingin mengharap-harap ganjaran, dan merasa telah berbuat ikhlas, maka ini bukanlah amalan (karena tidak didahului dengan ilmu). Sesungguhnya yang dilakukan hanyalah seperti amalannya orang gila yang pernah diangkat dari dirinya." (Syarh Al Bukhari libni Baththol, 1/144).

Gara-gara tidak memiliki ilmu, jadinya seseorang akan membuat-buat ibadah tanpa tuntunan atau amalannya jadi tidak sah. Jika seseorang tidak paham shalat, lalu ia mengarang-ngarang tata cara ibadahnya, tentu ibadahnya jadi sia-sia. Begitu pula mengarang-ngarang bhawa di hari jumat kliwon dianjurkan membaca surat yasin, padahal nyatanya tidak ada dasar dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, maka amalan tersebut sia-sia belaka. Begitu pula jika seseorang berdagang tanpa mau mempelajari fiqih berdagang terlebih dahulu. Ia pun mengutangkan kepada pembeli lalu utangan tersebut diminta diganti lebih (alias ada bunga). karena kejahulan dirinya dan malas belajar agama, ia tidak tahu kalau telah terjerumus dalam transaksi riba. maka berilmulah terlebih dahulu sebelum beramal. Mu'adz bin Jabal berkata, "Ilmu adalah pemimpin amal dan amalan itu berada di belakang setelah adanya ilmu," (Al Amru bil Ma'ruf wan Nahyu 'anil Mungkar, hal. 15).

Beramal tanpa ilmu membawa akibat amalan tersebut jauh dari tuntunan Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam, akhirnya amalan itu jadi sia-sia dan tertolak. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak." (HR. Muslim no. 1718).

Kerusakanlah yang ujung-ujungnya terjadi bukan maslahat yang akan dihasilkan. 'Umar bin 'Abdul 'Aziz berkata, "Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka dia akan membuat banyak kerusakan daripada mendatangkan kebaikan." (Al Amru bil Ma'ruf hal. 15).